Umat Islam Yang “Aneh”

Apa yang sedang terjadi di dalam diri umat islam Indonesia, akhir-akhir ini umat islam kembali digoncangkan oleh kalangannya sendiri, yang katanya sesat dan menyesatkan. Sehingga MUI bersama kawan-kawannya memperjuangkan apa yang mereka yakini bahwa yang dianggap mereka sesat pasti akan selalu sesat tidak ada ruang bagi mereka yang lain untuk mentransferkan dan mengimplementasikan ajarannya terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Itulah salah satu keanehan umat islam.

Kedua, masalah Tuhan, Tuhan kalau kita artikan banyak definisinya. Menurut si A dan si B, berbeda mendefinisikan Tuhan, apa itu Tuhan, bagaimana itu Tuhan dan sebagainya. Nah, umat islam kalau Tuhan dalam definisi berbeda mereka terus mengatakan bahwa dia telah keluar dari islam, padahal sama-sama islam, tetapi kok bertengkar masalah Tuhan, apakah Tuhan menjadi masalah bagi manusia atau manusia yang mempermasalahkan Tuhan. Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Yang ingin saya katakan bahwa manusia atau umat islam mencoba-coba mendefinisikan Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan, mengerti Tuhan (sesat dan menyesatkan), seolah-olah Tuhan itu telah dikukungnya di dalam benaknya, Tuhan didalam ruangannya dan didalam waktunya, kapan dia berkeinginan maka sudah waktu dan tempatnya dia mengatakan sesat atau kafir. Apakah seperti itu, saya tidak tahu.

Umat islam itu memang aneh, mencoba-coba mengetahui kehendak Tuhan denga kapasitas manusia, sedangkan Tuhan diluar kapasitas manusia. Mencoba-coba membatasi ruang gerak Tuhan sedangkan Tuhan itu tidak dapat dibatasi. Umat islam yang aneh, memang manusia memiliki akal tetapi akal manusia itu mempunyai keterbatasan tetapi mengapa umat islam tidak sadar akan keterbatasannya mencoba membatas-batasi tuhan dengan akal yang terbatas, inikan aneh.

Ketiga, masalah manusia, umat islam memang memiliki konsep tentang bagaimana megatur manusia dengan manusia yang lain atau disebut (hablu minannas), saya yakin itu. Tetapi mengapa kita bertengkar ketika kita berbeda tentang cara pandang kita terhadap mansia dan cara pengaturan manusia dengan manusia lain. Kita tidak munafikan tentang fenomena di Indonesia, ada umat islam yang ingin menegakkan konsep keislaman kaffah, seperti ekonomi islam, politik islam, Negara islam dan lain-lain, sepertinya islam sudah menjadi candu di dalam masyarakat islam Indonesia itu sendiri. Sehingga kalau tidak ada label islam mereka anggap tidak dari islam dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Ukurannya hanya label keislaman. Saya ingin mengatakan bahwa, perbedaan kita adalah tentang penggalian di dalam Al-qur’an dan ini adalah masalah memahami teks (tafsir).

Jangan-jangan akupun akan dianggap sesat, tapi biarlah akan aku serahkan kepada Tuhan secara pasrah.

Tinggalkan Balasan