Berawal dari pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa segala sesuatu dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Tapi menurut saya tidak semua hal dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, mungkin karena keterbatasan akal manusia. Contohnya tentang kehidupan disyurga. Katanya syurgalah tempat kehidupan kekal. Namun kita tidak tahu bagaimana kehidupan kita disyurga apakah kita tetap melaksanakan sholat atau tidak, sebab bukankah didalam al-qur’an dijelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan? Jika disyurga nanti kita tidak mau sholat, bagaimana? Apakah amal perbuatan kita disyurga nanti akan diperhitungkan?
Contoh lain adalah tentang Tuhan. Kita bias membuktikan adanya Tuhan yaitu lewat penciptan-Nya. Namun, timbul pertanyaan dibenak saya: mengapa mengapa ada dan untuk apa ada Tuhan? Sampai saat ini, saya belum menemukan jawabannya. Jika tidak ada penciptaan-Nya apakah Tuhan tetap ada? Beberapa orang yang telah saya Tanya menjawab bahwa: walaupun tidak ada yang diciptakan Tuhan, Tuhan tetap ada. Lalu saya bertanya lagi, jika Tuhan ada walaupun tanpa penciptaan maka mengapa ada Tuhan atau untuk apa ada Tuhan?
Oktober 2, 2007 pukul 7:00 pm
Alhamdulliah, saya sangat berbangga hati manusia yang bernama Alamsyahruddin dapat berfikir tentang katuhanan. sama halnya dengan Ibrahim, saya mendo’akan anda dapat melaluinya dengan keselamatan sepertinya dengan Ibrahim.
Iqra’ selalu dibaca oleh orang- orang yang cerdas, tak mungkinkan terjadi dialog antara Muhammad yang cerdas dengan Kaum Kafir yang Bodoh malah itu disebut dengan salah ajaran atau mungkin Muhammad yang bodoh dengan kaum kafir yang cerdas sama aja yang pasti sama2 cerdas seperti dalam surah Al kafirun. artinya Muhammad dalam hal ini lebih paham dan cerdas dalam semua tindakannya apalagi dalam kehidupannya pernah didatanngi oleh Malaikat yang intinya Membaca (Paham, berilmu, observasi) yang untuk untuk paham Tuhan ya harus berilmu. apalagi surgakan hanya untuk ornag2 yang pintar tak mungkin orang yang bodoh. saya bingung hari ini umat islam selalu menyatakan dirinya sebagai hamba yang do’if / lemah malah Tuhan tak pernah menyuruh hambanya lupa malah ia menyuruh/ memanggil Ya ayuhannnas, ya ayuhalalzina aminu. tidak ada ya ayulal dolla.
was