Dawam Rahardjo: demi Toleransi dan Pluralisme

Juli 12, 2007

Oleh
Saidiman

Prof Dr Dawam Rahardjo genap berusia 65 tahun pada 20 April 2007. Ulang tahun itu dirayakan oleh kawan-kawan dan murid-muridnya pada tanggal 4 Mei 2007 di Auditorium Universitas Paramadina. Mas Dawam (panggilan akrabnya) adalah satu dari beberapa intelektual muslim awal (sejak tahun 1960-an) yang sangat intens memperjuangkan ide-ide kebebasan dan pluralisme di Indonesia.
Beberapa yang lain adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Djohan Effendi. Sementara yang lain telah lebih dulu meninggal, seperti Nurcholish Madjid dan Ahmad Wahib.
Mereka inilah yang bisa disebut sebagai pembuka jalan bagi gagasan kebebasan dan pluralisme yang sekarang banyak berkembang di kalangan pemikir-pemikir muda Islam. Para pemikir yang sezaman dengan mereka juga banyak yang telah mengusung gagasan itu, namun fokus bahasan mereka tidak dalam konteks keislaman, terutama dalam tataran normatif-teologis, tetapi pada aspek yang lebih umum terkait dengan persoalan kebangsaan.
Pada perayaan ulang tahun itu juga sekaligus diluncurkan sebuah buku, Demi Toleransi, Demi Pluralisme, yang berisi kumpulan tulisan 31 tokoh yang berasal dari kalangan intelektual, pe77tinggi partai, agamawan, aktivis LSM, dan lain-lain yang semuanya adalah teman dan murid Dawam.
Beragam tema dan latar belakang penulisnya memperlihatkan betapa Dawam merambah beragam isu sepanjang karier intelektualnya. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada ini tidak hanya mahir menganalisa ekonomi, tapi juga sangat piawai bicara Islam, pluralisme, sosiologi, antropologi, filsafat, sastra, feminisme, studi perdamaian, dan lain-lain. Dawam bahkan bisa disebut sebagai perintis perkembangan beberapa teori ilmu sosial di Indonesia, seperti memperkenalkan teori dependensia dan studi perdamaian.

Baca entri selengkapnya »


RENUNGAN: MENGAPA DAN UNTUK APA?

Juli 5, 2007

Berawal dari pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa segala sesuatu dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Tapi menurut saya tidak semua hal dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, mungkin karena keterbatasan akal manusia. Contohnya tentang kehidupan disyurga. Katanya syurgalah tempat kehidupan kekal. Namun kita tidak tahu bagaimana kehidupan kita disyurga apakah kita tetap melaksanakan sholat atau tidak, sebab bukankah didalam al-qur’an dijelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan? Jika disyurga nanti kita tidak mau sholat, bagaimana? Apakah amal perbuatan kita disyurga nanti akan diperhitungkan?

            Contoh lain adalah tentang Tuhan. Kita bias membuktikan adanya Tuhan yaitu lewat penciptan-Nya. Namun, timbul pertanyaan dibenak saya: mengapa mengapa ada dan untuk apa ada Tuhan? Sampai saat ini, saya belum menemukan jawabannya. Jika tidak ada penciptaan-Nya apakah Tuhan tetap ada? Beberapa orang yang telah saya Tanya menjawab bahwa: walaupun tidak ada yang diciptakan Tuhan, Tuhan tetap ada. Lalu saya bertanya lagi, jika Tuhan ada walaupun tanpa penciptaan maka mengapa ada Tuhan atau untuk apa ada Tuhan?


SALAHKAH AKU

Juli 2, 2007
di sore hari
langit yang mendung
dingin, menusuk tulang-tulangku
di dalam lamunan ku
aku tersentakkan
 dengan suara lirih
penuh dengan kesesalan
dan kepedihan
aku yang tak memiliki apa-apa
aku hanya memiliki sebongkah kebodohan
yang menutupi otak ku
entahlah…
 mungkin itu hanya perasaanku
dan kelalaian ku
terkadang aku berpikir
apakah aku dalam hidupku
dan kehidupan ku
hanya mencari sebuah kebenaran
apakah kebenaran yang ku cari
hanyalah sebuah kebohongan
yang belum terungkap
terkadang aku berpikir
apakah aku telah menghancurkan agama ku
atau membela agama ku
salahkah aku…
berpikir tentang agama ku
salahkah aku…
berpikir beda dengan semua orang
itulah aku
aku selalu berpikir
aku : hidup dalam berpikir
02 juli 2007

SEBUAH RENUNGAN IMPIAN

Juli 2, 2007
Dalam perjalanan ku
entah apa yang ku jalani
Dalam kehidupan ku
hidup tanpa tujuan
                                   Dalam pencarian ku
                                   sungguh sangat melelahkan
                                  aku seperti mencari
                                  sebuah kebenaran yang tercecer
                                dari pikiran-pikiran interelaktual
Aku hanya bisa berteriak
dalam kesunyian
aku hanya mampu berbicara
dalam diriku sendiri
                                  Aku merasakan kegonjangan pemikiran
                                  mencari dan berjalan
                                dalam pergolakan pemikiran
haruskah aku berdiam diri
apakah aku hanya bisa melihat zaman
apakah aku hanya ikut dan
menuruti perjalanan zaman
                              oh… tidak kalau aku
                             hanya bisa fakum dalam
                            pemikiran dan keilmuan
                           inilah hidupku tanpa tujuan
                          inilah hidupku tanpa mempunyai makna
                        yang takmampu menghiasi zaman
aku harus mampu berteriak
dalam keramaian
dimana tempatnya orang-orang
intelektual berbicara
                     aku harus mampu membaca zaman
                    agar sebuah kekecewaan
                    dapat aku redam
tapi, perjalanan masih panjang
aku harus tetap bersabar
untuk meraih yang aku inginkan
inilah sebuah renungan impian
02 juli 2007
 

“Memeluk” Agama atau “Dipeluk” Agama

Juli 2, 2007

Terkadang saya berpikir dan mempertanyakan sikap keberagamaan sendiri, apakah saya sudah menghayati dan memahami tentang agama saya (islam) atau saya terhayati oleh pemahaman orang lain tentang islam. Atau bagaimana sikap keberagamaan saya apakah secara kreatif-inovatif atau pasif dan stagnatif. dengan kata lain apakah saya telah mampu memberikan warna dalam kehidupanku tentang agama saya sendiri, sehingga saya memiliki persepsi sendiri tentang agama saya sendir atau saya telah diwarnai oleh orang lain tentang pemahamannya tentang agama islam, sehingga saya terpengaruh terhadap pemahamannya yang pada akhirnya saya bersikap taqlid buta terhadap agama islam sendiri-seperti yang dipahami oleh orang lain. kalau seperti inilah sikap beragama saya(taqlid buta) maka saya telah “dipeluk” oleh agama, karena saya tak mampu bebas dalam memberikan warna kehidupan.

saya harus memilih apakah saya “memeluk” agama atau “dipeluk” oleh agama?. oh….tidak saya harus “memeluk” agama untuk itu berikan saya kebebasan dalam memahami agama saya sendiri, saya harus mampu memberikan warna kehidupan pada agama sehingga saya dapat menghayati dan memahami makna beragama. itulah makna hidup saya dalam beragama.