Jum’at, 25 Mei 2007
POSMODERNISME dan “KEBANGKITAN AGAMA”
Oleh: Alamsyahruddin Pasaribu
JARIK (Jaringan Islam Kampus)
Medan – Sumatera Utara
Seperti yang dilukiskan oleh Peter L. Belger bahwa manusia modern mengalami anomea, yaitu suatu keadaan dimana di setiap individu manusia kehilangan ikatan yang memberikan perasaan aman dan kemantapan dengan sesama manusia lainnya, sehingga menyebabkan kehilangan pengertian yang memberikan petunjuk tentang tujuan dan arti kehidupan di dunia ini (Haedar Nashir, 1997:3). Dari gambaran ini, terlukis bahwa fenomena manusia modren mengalami berbagai penyakit keterasingan (alienasi). Adapun gejala krisis manusia modern yang menyebabkan keterasingan adalah ketidak jelasan terhadap norma-norma kemanusiaan yang oleh Durkheim di sebut kehidupan tanpa acuan norma (normleesnes). Sehingga dari gejala krisis ini menimbulkan masyarakat yang kehilangan keseimbangan.
Ali Shariati secara tegas melukiskan penyakit manusia modern sebagai malapetaka modern, yang menyebabkan kemerosotan dan kehancuran manusia. Walaupun pernyataan ini begitu ironis, tetapi hal ini ada juga benarnya karena orientasi manusia modern adalah material (materialisme),sebagai contoh: manusia modern telah banyak menciptakan teknelogi dan industri untuk mengejar materi dan berkeinginan untuk berkuasa yang pada akhirnya menimbulkan malapetaka terhadap manusia itu sendiri. Bisa dikatakan manusia modern telah membawa dan menciptakan suasana manusia menjadi tidak bermakna.
Melihat gejala seperti ini, Daniel Bell telah lama meyuarakan kegelisahan dan penyesalan atas modernisasi yang telah mencerabut dan telah meleyapkan nilai-nilai luhur kehidupan tradisional yang digantikan oleh nilai-nilai kemodernan masyarakat borjuis-perkotaan yang penuh keserakahan dan seribu satu nafsu untuk menguasai sebagaimana watak masyarakat modern-kapitalis.
Pada tahun 1960-an, bangkit suatu gerakan kultural intelektual baru akibat rasa cemas terhadap janji-janji terhadap gerakan modern yang dianggap gombal. Gerakan ini menamakan dirinya posmodernisme (Alwi Shihab, 1999:50). Salah satu gerakan posmodernisme mengembalikan semangat baru kepada nilai-nilai tradisi keagamaan, menghidupkan kembali relevansi nilai-nilai tradisioal suci terhadap kehidupan manusia yang selama ini dicampakkan oleh modernitas dan di nilai tidak berguna. Dengan demikian, gerakan posmodernisme dapat dikatakan telah mempertemukan kelompok agamawan.
Perlu di ketahui bahwa maksud menghidupkan nilai-nilai tradisional suci aadalah kehadiran masa lalu yakni rasa keagamaan (sense of the numinous) yang di isyaratkan oleh agamawan kristen Rudolf Otto (1869-1937), atau fitrah dalam istilah al-Qur’an. Dengan kata lain bahwa gerakan posmedern secara tidak langsung telah menghidupkan kembali pamor agama, atau istilah Gilles Kepel sebagai kebangkitan agama (Ahmad Gaus, 1999:322).
Oktober 2, 2007 pukul 6:23 pm
perlu kita ketahui bahwa agama adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia sehingga nilai2 agama yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua masyarakat menjadi gersang dengan tidak menghadirkan Tuhan yang menciptakan.
agama = tidak rusak.
padahal kalau kita telaah bahwa ajaran yang diturunkan oleh Tuhan kepada pesuruhnya (Rasul) adalah untuk umat dan alam semesta sehingga sehingga Tuhan selalu ada didalam dirinya yang penuh dengan kenikmatan yang tak terduga misalnya ajaran Musa dengan Yahudi Nya yang artinya pelindung, Nasrani yang dibawa oleh Isa yang artinya Penolong Ku dan Islam yang di bawa oleh Muhammad yang arinya keselamatan. jadi apapun agama yang diajarkan kepada umat yanng jelas tidak merusak segala sesuatu yang ada tatapi terkadang misi menjalankan agama sengat berbeda jauh yang dapat lari dari agama yang dianut. saya menghimbau kepada seluruh umat agar mereka harus paham ajaran yang m,ereka anut apakah itu Islam, Yahudi atapun Nasrani sehingga pilar ajaran tidak terlupakan termasuuk yang maha menciptakan.