Orientasi Pluralisme Dalam Beragama

Februari 3, 2008

(Tanggapan Terhadap Tulisan Alamsyahruddin Pasaribu Tentang “Pluralisme: Membangun Sikap Beragama Dalam Kerukunan Umat Beragam)Jarik Sumut

Oleh: Ari Kurniawan

Sekarang kita memasuku era modern, diman segala persoalan manusia menjasi lebih komplek. Agama secara normative dan ideal ialah untuk mewujudkan perdamaian bagi kemanusiaan. namun ketika agama ditilik dari historisnya penuh dengan konflik, kebencian, pertikaian dan kekerasan seperti terdapat pada tulisan Kausar Azhari Noer dengan tema ”Menampilkan Agama Berwajah Ramah” menjadi refleksi kita bersama bahwa agama dijadikan legitimasi untuk sebagaian kelompok yang mengatasnamakan agama yang dianutnya untuk menghancurkan atau bahkan “menghilangkan” eksistensi agama yang tidak sesua dengan yang dipercayainya. Disini tidak dijelaskan secara rinci dari berbagai peperangan atau konflik yang terjadi dulu dan sekarang tetapi ingin mencari jalan tengah dan titik temu atau meminjam istilah Cak Nur dengan “Kalimat Sawa” dari agama-agama dunia (islam, Kristen, yahudi, Hindu dan lain-lain) untuk bisa berkaca bagi masa depan agama masing-masing.

dalam tulisan Alamsyahruddin memang ingin memberikan wacana bahwa claim of truth and salvation adalah tidak mutlak milik sebagian agama (islam). Bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk berfikir dan bertindak atau menurut Huston Smith bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran dari yang lain adalah karena sikpa menutup diri yang ditimbulkan dari refleksi agnostic atau keengganan untuk tahu tentang kebenaran yang diperkirakan justru akan lebih tinggi nilainya dari apa yang sudah ada pada kita (lihat “Sudirman Tebba, KKP Paramadina “Orientasi Sufistik Cak Nur). Walaupun tekadang agak sulit tapi kita harus bisa membuka diri untuk menerima kebenaran dari agama lain.

Telihat bahwa tulisan Alamsyah ingin meng-counter peran MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang telalu berlebihan dalam megeluarkan pendapat bahwa pluralisme adalah haram bagi umat islam. kemudian lagi bahwa fatwa MUI umat agama (islam) memiliki pola pikir “teo-Monolegalistik”, artinya umat islam menyakini bahwa tuhan memberikan legitimasi terhadap satu faham keagamaan.

Saya memandang, apa yang dinyatakan saudara Alamsyah tidak jauh berbeda ketiak MUI mengharamkan pluralisme, maksudnya Alamsyah dan MUI sama saja tetap saling mencurigai dan saling tidak percaya. Dalam buku Jalaluddin Rakhmat “Psikologi Komunikasi” dinyatakan “dua pihak yang saling tidak percaya sulit untuk saling bekerjasama”, karena menurut teolog Kristen terkenal Hans Kung “tidak akan ada kedamaian diantara bangsa-bangsa, selama tidak ada kedamaian di antara agama-agama. dan tidak ada damai di antara agama-agama selama tidak ada dialog di antar agama-agama. (lihat “Dialog Kritis & Identitas Agama”, seri DIAN 1/ tahun 1.), maksudnya jika kita ingin membuka lembaran baru bahwa plural itu jalan tengah untuk menuju kedamaian dan kemanusiaan maka kita harus memulai dengan dialog. Dialog disini harus terskop dari mulai intern dan ekstern dari masing-masing agama. Kita tidak bisa damai dan rukun jika masalah intern agama saja kita bisa menyelesaikannya. Misalnya, masalah fiqihisme yang terkadang dapat menimbulkan konflik dan perpecahan.

yang belum disentuh dari tulisan saudara Alamsyah mungkin tentang bagaimana konsep pluralisme memberikan jawaban ataupun solusi yang praktis untuk mewujudkan harmonisasi dan kerukunan umat beragama? sehingga kemajemukan (pluralis) sebagai “karya Tuhan” menurut Komaruddin Hidayat merupakan sebuah keharusan dan memang ada. Kita tidak bisa memungkiri dan harus yakin jika pluralitas memang ada dan telah mendampingi sisi kehidupan manusia, politik, sosial, budaya dan agama. Dengan plural sebagai unsur penting terciptanya perdamaian dan mengesampingkan fanatisme-egosentrisme.

Kemudian dari tulisan saudara Alamsyah ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban bersama yakni apakah sikap toleransi dapat hidup bersama dalam kemajemukan (plural) ? toleransi yang bagaiman ?. Disini saya mencoba menjawab bahwa toleransi masih menjadi satu-satunya tujuan utama dari dialog. setidaknya sarana minimal untuk hidup bersama. Toleransi yang berasal dari kata “tolerare” (Latin) yang berarti: menahan, membiarkan, memelihara, mempertahankan hidup. Dari arti secara bahasa dapat diketahui toleransi untuk memelihara sesuatu supaya tetap hidup, apapun itu dan termasuk disini pluralitas (majemuk) dalam berbagai sisi kehidupan manusia.

tawaran yang memadai ialah dialog. Bentuk dialog baru yang bisa ditekankan disini adalah dialog pro-eksistensi, tokohnya yaitu Hang Kung seorang teolg Kristen Katolik dengan bukunya The Christianity of Word Religion menyatakan dengan dialog pro-eksistensi kita tidak sekedar mengumpulkan unsur-unsur persamaan doktriner, tradisi, semangat dan sebagainya, tetapi juga unsur-unsur yang meliputi perbedaan bahkan mengandung potensi untuk konflik. Maksudnya, Kung memberikan tantangan bagi umat beragama untuk mengenal agama lain tanpa prasangka, tetapi juga mengenal agamanya sendiri secara kritis lewat agama-agama lain.

Jadi rumusan dialog untuk memperoleh sikap toleransi dalam kemajemukan harus dimulai dengan kata sepakat dialog. Karena dialog merupakan percakapan atau komunikasi antara dua fihak yang berdeda satu sama lain, maka pelu dirumuskan unsur-unsurnya, antara lain: keterbukaan, sikap kritis, dan upaya untuk mendengar, saling belajar dan memahami orang lain secara lebih mendalam. Agama untuk manusia atau meminjam istilah Kautsar Azhari Noer dengan “agama humanis”, harus ditekankan bersama bahwa dialog bukan dimaksudkan untuk mencari kebenaran mutlak ataupun absolutisme kelompok tapi mencari titik temu dari persoalan agama untuk manusia.  


Pluralisme: Membangun Sikap Beragama Dalam Kerukunan Umat Beragama

Februari 3, 2008

(Sebuah Masukan Terhadap Tulisan Saudara Alamsyahruddin Pasaribu)JarIK Sumut

Oleh: Rudi Hartono

Tulisan ini sengaja saya tujukan kepada saudara Alamsyahruddin Pasaribu yang cukup semangat dan brilian dalam tulisannya mengenai “Pluralisme: Membangun Sikap Beragama Dalam Kerukunan Umat Beragama”. Dimana dalam tulisan beliau mencoba membahas sebuah konsep Pluralisme yang kiranya dapat menumbuhkan sikap beragama dalam kerukunan umat beragama.

            Sebenarnya berbicara tentang konsep pluralisme, sama halnya membicarakan tentang sebuah konsep ‘kemajemukan atau keberagaman”, dimana jikalau kita kembali pada arti pluralisme itu sendiri bahwasanya pluralisme itu merupakan suatu “kondisi masyarakat yang majemuk”. (Lihat Budy Munawar Rahcman dalam Islam Pluralisme). Kemajemukan disini dapat berarti kemajemukan dalam beragama, sosial dan budaya. namun yang sering menjadi issu terhangat berada pada kemajemukan beragama. Pada prinsipnya, konsep pluralisme ini timbul setelah adanya konsep toleransi. jadi ketika setiap individu mengaplikasikan konsep toleransi terhadap individu lainnya maka lahirlah pluralisme itu. Maka pertanyaan yang timbul sebagai bias dari statement diatas adalah apakah masyarakat telebih khusus yang ada di Negara Indonesia ini sudah menerapkan konsep toleransi dan konsep Pluralisme yang merata?

            Maka dari itu di dalam tulisan saudara Alam, yang harus diperhatikan dalam tulisan ini menurut hemat saya adalah hendaknya penulis harus memberikan informasi sedikit mengenai konsep toleransi yang benar yang sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku (undang-undang) dan jikalau bisa hendaknya penulis juga menukilkan tentang konsep pluralisme seperti apa yang harus diaplikasikan dalam hidup dan kehidupan khususnya dalam hidup bermasyarakat.

            kemudian juga, saya merasa bangga kepada saudara Alamsyahruddin karena sudah bersusah payah dalam menyelesaikan tulisannya, dimana dalam konsep pluralisme-lah Negara atau bangsa (Indonesia) yang beraneka ragam ini mulai dari suku, agama, ras, dan golongan dapat menjadi rukun dan damai. karena jikalau kita tidak menerapkan konsep pluralisme ini kedalam suatu Negara telebih khusus dalam aspek keagamaan maka Negara ini akan hancur dikarenakan perpecahan atau perbedaan pandangan.

            Arthu J.D. Amo yang dikutip Budy Munawar Racman dalam bukunya “Islam Pluralisme” menjelaskan bahwa salah satu penyebab timbulnya konflik ditubuh umat yang beragama adalah karena ketidak keritisan berfikir dalam beragama atau dalam istilah trendnya dapat disebut dengan “Religion’s way of knowing” ketidak keritisan ini pada awalnya adalah dikarenakan:

  1. Adanya standart yang tinggi mengenai bahwa kitab suci dan agamanyalah yang paling tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.
  2. Bersifat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran tanpa kesalahan sama sekali
  3. Bersifat lengkap dan final dan karena itu memang tidak diperlukan kebenaran dari agama lain
  4. Kebenaran agamnya sendiri dianggap merupakan satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan atau pembebasan
  5. Seluruh kebenaran itu diyakini original dari Tuhan

 


Aliran Jubir

Januari 23, 2008

Medan (sumatera utara), tepatnya di Belawan muncul aliran baru yang disebut dengan Aliran Jubir. Disebut Jubir karena pemimpin aliran ini namanya Jubir. Menurut informasi, jumlah pengikut aliran tersebut mencapai 40 orang. Aliran ini sudah berkembang sekitar dua tahun dan berpusat di Kelurahan Bagan Deli, tepatnya dipinggir jalan menuju UTPK (Unit Terminal Peti Kemas) Pelabuhan Belawan. Markas kelompok itu terbuat dari triplek dan berwarna hijau. Saat ini pondok itu diberi police line           

Aliran Jubir diduga telah mengajarkan faham sesat, karena telah mengubah dan mengganti kalimat syahadat dengan memasukkan namanya (Jubir). Diduga lafadz syahadat diubah pada kalimat kedua setelah Asyhaduallaailaha ilalallah, yaitu Asyhaduannamuhammadarrosulullah diganti menjadi Ashaduannajubirrasulullah.         

Di Desa Bagan Deli (Gabion) Belawan, Deli Serdang, Senin (21/1) sekitar pukul 22.00 Wib, warga dan pengikut aliran Jubir  bentrok, akibatnya puluhan orang luka-luka. Bentrokan terjadi disebabkan warga berusaha membubarkan aliran jubir, karena merasa resah dan khawatir fahamnya akan menyebar kemasyarakat lain. Untuk lebih lengkapnya baca Sumut Pos (Selasa 22 Januari 2008, no. 108 tahun VII)


Umat Islam Yang “Aneh”

Desember 23, 2007

Apa yang sedang terjadi di dalam diri umat islam Indonesia, akhir-akhir ini umat islam kembali digoncangkan oleh kalangannya sendiri, yang katanya sesat dan menyesatkan. Sehingga MUI bersama kawan-kawannya memperjuangkan apa yang mereka yakini bahwa yang dianggap mereka sesat pasti akan selalu sesat tidak ada ruang bagi mereka yang lain untuk mentransferkan dan mengimplementasikan ajarannya terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Itulah salah satu keanehan umat islam.

Kedua, masalah Tuhan, Tuhan kalau kita artikan banyak definisinya. Menurut si A dan si B, berbeda mendefinisikan Tuhan, apa itu Tuhan, bagaimana itu Tuhan dan sebagainya. Nah, umat islam kalau Tuhan dalam definisi berbeda mereka terus mengatakan bahwa dia telah keluar dari islam, padahal sama-sama islam, tetapi kok bertengkar masalah Tuhan, apakah Tuhan menjadi masalah bagi manusia atau manusia yang mempermasalahkan Tuhan. Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Yang ingin saya katakan bahwa manusia atau umat islam mencoba-coba mendefinisikan Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan, mengerti Tuhan (sesat dan menyesatkan), seolah-olah Tuhan itu telah dikukungnya di dalam benaknya, Tuhan didalam ruangannya dan didalam waktunya, kapan dia berkeinginan maka sudah waktu dan tempatnya dia mengatakan sesat atau kafir. Apakah seperti itu, saya tidak tahu.

Umat islam itu memang aneh, mencoba-coba mengetahui kehendak Tuhan denga kapasitas manusia, sedangkan Tuhan diluar kapasitas manusia. Mencoba-coba membatasi ruang gerak Tuhan sedangkan Tuhan itu tidak dapat dibatasi. Umat islam yang aneh, memang manusia memiliki akal tetapi akal manusia itu mempunyai keterbatasan tetapi mengapa umat islam tidak sadar akan keterbatasannya mencoba membatas-batasi tuhan dengan akal yang terbatas, inikan aneh.

Ketiga, masalah manusia, umat islam memang memiliki konsep tentang bagaimana megatur manusia dengan manusia yang lain atau disebut (hablu minannas), saya yakin itu. Tetapi mengapa kita bertengkar ketika kita berbeda tentang cara pandang kita terhadap mansia dan cara pengaturan manusia dengan manusia lain. Kita tidak munafikan tentang fenomena di Indonesia, ada umat islam yang ingin menegakkan konsep keislaman kaffah, seperti ekonomi islam, politik islam, Negara islam dan lain-lain, sepertinya islam sudah menjadi candu di dalam masyarakat islam Indonesia itu sendiri. Sehingga kalau tidak ada label islam mereka anggap tidak dari islam dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Ukurannya hanya label keislaman. Saya ingin mengatakan bahwa, perbedaan kita adalah tentang penggalian di dalam Al-qur’an dan ini adalah masalah memahami teks (tafsir).

Jangan-jangan akupun akan dianggap sesat, tapi biarlah akan aku serahkan kepada Tuhan secara pasrah.


Dawam Rahardjo: demi Toleransi dan Pluralisme

Juli 12, 2007

Oleh
Saidiman

Prof Dr Dawam Rahardjo genap berusia 65 tahun pada 20 April 2007. Ulang tahun itu dirayakan oleh kawan-kawan dan murid-muridnya pada tanggal 4 Mei 2007 di Auditorium Universitas Paramadina. Mas Dawam (panggilan akrabnya) adalah satu dari beberapa intelektual muslim awal (sejak tahun 1960-an) yang sangat intens memperjuangkan ide-ide kebebasan dan pluralisme di Indonesia.
Beberapa yang lain adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Djohan Effendi. Sementara yang lain telah lebih dulu meninggal, seperti Nurcholish Madjid dan Ahmad Wahib.
Mereka inilah yang bisa disebut sebagai pembuka jalan bagi gagasan kebebasan dan pluralisme yang sekarang banyak berkembang di kalangan pemikir-pemikir muda Islam. Para pemikir yang sezaman dengan mereka juga banyak yang telah mengusung gagasan itu, namun fokus bahasan mereka tidak dalam konteks keislaman, terutama dalam tataran normatif-teologis, tetapi pada aspek yang lebih umum terkait dengan persoalan kebangsaan.
Pada perayaan ulang tahun itu juga sekaligus diluncurkan sebuah buku, Demi Toleransi, Demi Pluralisme, yang berisi kumpulan tulisan 31 tokoh yang berasal dari kalangan intelektual, pe77tinggi partai, agamawan, aktivis LSM, dan lain-lain yang semuanya adalah teman dan murid Dawam.
Beragam tema dan latar belakang penulisnya memperlihatkan betapa Dawam merambah beragam isu sepanjang karier intelektualnya. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada ini tidak hanya mahir menganalisa ekonomi, tapi juga sangat piawai bicara Islam, pluralisme, sosiologi, antropologi, filsafat, sastra, feminisme, studi perdamaian, dan lain-lain. Dawam bahkan bisa disebut sebagai perintis perkembangan beberapa teori ilmu sosial di Indonesia, seperti memperkenalkan teori dependensia dan studi perdamaian.

Baca entri selengkapnya »


RENUNGAN: MENGAPA DAN UNTUK APA?

Juli 5, 2007

Berawal dari pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa segala sesuatu dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Tapi menurut saya tidak semua hal dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, mungkin karena keterbatasan akal manusia. Contohnya tentang kehidupan disyurga. Katanya syurgalah tempat kehidupan kekal. Namun kita tidak tahu bagaimana kehidupan kita disyurga apakah kita tetap melaksanakan sholat atau tidak, sebab bukankah didalam al-qur’an dijelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan? Jika disyurga nanti kita tidak mau sholat, bagaimana? Apakah amal perbuatan kita disyurga nanti akan diperhitungkan?

            Contoh lain adalah tentang Tuhan. Kita bias membuktikan adanya Tuhan yaitu lewat penciptan-Nya. Namun, timbul pertanyaan dibenak saya: mengapa mengapa ada dan untuk apa ada Tuhan? Sampai saat ini, saya belum menemukan jawabannya. Jika tidak ada penciptaan-Nya apakah Tuhan tetap ada? Beberapa orang yang telah saya Tanya menjawab bahwa: walaupun tidak ada yang diciptakan Tuhan, Tuhan tetap ada. Lalu saya bertanya lagi, jika Tuhan ada walaupun tanpa penciptaan maka mengapa ada Tuhan atau untuk apa ada Tuhan?


SALAHKAH AKU

Juli 2, 2007
di sore hari
langit yang mendung
dingin, menusuk tulang-tulangku
di dalam lamunan ku
aku tersentakkan
 dengan suara lirih
penuh dengan kesesalan
dan kepedihan
aku yang tak memiliki apa-apa
aku hanya memiliki sebongkah kebodohan
yang menutupi otak ku
entahlah…
 mungkin itu hanya perasaanku
dan kelalaian ku
terkadang aku berpikir
apakah aku dalam hidupku
dan kehidupan ku
hanya mencari sebuah kebenaran
apakah kebenaran yang ku cari
hanyalah sebuah kebohongan
yang belum terungkap
terkadang aku berpikir
apakah aku telah menghancurkan agama ku
atau membela agama ku
salahkah aku…
berpikir tentang agama ku
salahkah aku…
berpikir beda dengan semua orang
itulah aku
aku selalu berpikir
aku : hidup dalam berpikir
02 juli 2007

SEBUAH RENUNGAN IMPIAN

Juli 2, 2007
Dalam perjalanan ku
entah apa yang ku jalani
Dalam kehidupan ku
hidup tanpa tujuan
                                   Dalam pencarian ku
                                   sungguh sangat melelahkan
                                  aku seperti mencari
                                  sebuah kebenaran yang tercecer
                                dari pikiran-pikiran interelaktual
Aku hanya bisa berteriak
dalam kesunyian
aku hanya mampu berbicara
dalam diriku sendiri
                                  Aku merasakan kegonjangan pemikiran
                                  mencari dan berjalan
                                dalam pergolakan pemikiran
haruskah aku berdiam diri
apakah aku hanya bisa melihat zaman
apakah aku hanya ikut dan
menuruti perjalanan zaman
                              oh… tidak kalau aku
                             hanya bisa fakum dalam
                            pemikiran dan keilmuan
                           inilah hidupku tanpa tujuan
                          inilah hidupku tanpa mempunyai makna
                        yang takmampu menghiasi zaman
aku harus mampu berteriak
dalam keramaian
dimana tempatnya orang-orang
intelektual berbicara
                     aku harus mampu membaca zaman
                    agar sebuah kekecewaan
                    dapat aku redam
tapi, perjalanan masih panjang
aku harus tetap bersabar
untuk meraih yang aku inginkan
inilah sebuah renungan impian
02 juli 2007
 

“Memeluk” Agama atau “Dipeluk” Agama

Juli 2, 2007

Terkadang saya berpikir dan mempertanyakan sikap keberagamaan sendiri, apakah saya sudah menghayati dan memahami tentang agama saya (islam) atau saya terhayati oleh pemahaman orang lain tentang islam. Atau bagaimana sikap keberagamaan saya apakah secara kreatif-inovatif atau pasif dan stagnatif. dengan kata lain apakah saya telah mampu memberikan warna dalam kehidupanku tentang agama saya sendiri, sehingga saya memiliki persepsi sendiri tentang agama saya sendir atau saya telah diwarnai oleh orang lain tentang pemahamannya tentang agama islam, sehingga saya terpengaruh terhadap pemahamannya yang pada akhirnya saya bersikap taqlid buta terhadap agama islam sendiri-seperti yang dipahami oleh orang lain. kalau seperti inilah sikap beragama saya(taqlid buta) maka saya telah “dipeluk” oleh agama, karena saya tak mampu bebas dalam memberikan warna kehidupan.

saya harus memilih apakah saya “memeluk” agama atau “dipeluk” oleh agama?. oh….tidak saya harus “memeluk” agama untuk itu berikan saya kebebasan dalam memahami agama saya sendiri, saya harus mampu memberikan warna kehidupan pada agama sehingga saya dapat menghayati dan memahami makna beragama. itulah makna hidup saya dalam beragama.


KEGELISAHAN : GEJALA KETAKUTAN TERHADAP AGAMA

Mei 30, 2007

Saya manusia yang mengakui dan percaya adanya Tuhan, karena tidak ada sesuatu apapun tanpa ada Penciptanya. Lalu saya ingin mencari bagaimana cara bersikap kepada Tuhan tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Kemudian saya mendapatkan informasi bahwa agamalah solusinya yang akan mengajarkan itu semua. Namun, saya melihat suatu kejadian bahwa ketika seseorang atau saya masuk ke agama Kristen atau budha, atau hindu atau “yang lainnya” maka sebagian umat Islam menganggap kristen itu tidak benar dan sebaliknya ketika saya masuk agama Islam maka sebagian umat agama-agama lainpun menganggap bahwa agama Islam tidak benar. Baca entri selengkapnya »